Halaman Berapa ?

bermain-bola-3-copy.jpgHalo sahabat blogger, pecinta seni dan penikmat seni (mungkin). Sebelum memulai satu kisah masa lalu atau mungkin sebuah kisah yang bisa menjadi inspirasi buat pembaca, penulis khususnya. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri, nama saya Riki Mahendra, biasa dipanggil Riki, saya lahir di Sawang, 11 Agustus 1998.

Dipostingan pertama, saya ingin menceritakan bagaimana kisah kecil saya hingga dewasa ini. Sebenarnya saya agak bingunng ingin memulai cerita dibagian mana, namun apapun atau bagaimanapun start kisah ini yang terpenting itu endingnya. hihi

Dimulai saat matahari menyapaku di usia 5 tahun aku mulai melakukan banyak hal dengan teman sebayaku di desa Gano, Banda Aceh. Kami sering bermain yang kamipun tak tahu mau main apa, sebab masa kecil kami banyak sekali permainan yang mungkin sekarang sudah jarang.

“Hari ini mau main apa?” ajakku kepada Adi

“Enaknya main apa?” eeh dianya malah balik nanya

“Kita ke rumah Farhan aja yok?” ajakku “Dia punya sepeda” sambungku.

Kamipun berjalan dengan sandal karet yang kakinya mengayun-ayun menendang kerikil sepanjang jalan, sebab itulah masa kecil bahagia. haha

Ditengah perjalanan langkah kami terhenti, mata kami tertuju ke arah bapak-bapak yang sedang menegakkan kailnya ke dalam sebuah sungai yang berlumpur, kami mendekati bapak itu dan melihat seeor ikan berkumis didalam tempayan yang ia bawa.

“Ikan apa ini,pak?” tanya Adi,temanku

“Ini namanya ikan lele dek, pernah makan?” balasnya

“Boleh kami minta????” hehe, pintaku nyengir

Bapak itu tersenyum sambil berkata “Sini duduk, kita pancing sama-sama” bapak itu mengeluarkan tali pancing dan memberinya pada kami, tak lama kemudian umpanku disambar,aku terkejut dan tak sengaja melepas tali pancing tersebut ke sungai. Bapak yang tadi tertawa melihat kepolosanku. Aku bernekat turun mengambil tali pancing tersebut karena sungai dekat jalan tersebut tepinya tidak terlalu dalam namun becek.

“Pluppppp” suara kakiku masuk ke dalam lumpur

“Jangan dek, ambil pancing yang lain saja” bapak itu mencegatku

Aku tidak mengubrisnya, ku celupkan kedua kakiku hingga aku dapat berdiri tegak untuk meraih pancing tersebut, alhasil kakiku hitam setengah lutut.

Hari itu bapak tersebut memberikan masing-masing seekor ikan kepada kami, kamipun pulang dengan riangnya membawa seekor ikan yang kami pancing tadi.

Sesampai dirumah, aku mennunjukkan ikan kepada ibuku, tatapannya yang pertama melihat seekor ikan, kedua ke kakiku, ketiga ke lantai.

“Dapat darimana ikannya?” tanyanya “tadi kami pancing sama bapak-bapak di sungai, digoreng ya????” pintaku

Ibuku mengambil ikan, lalu menukarnya dengan subuah gayung, (tatapku heran)

“Mandi, habis itu makan, langsung tidur” Serunya halus.

Akupun melakukan apa yang disuruh olehnya.

Mataku sudah terbuka, menatap langit-langit yang lampunya remang-remang di antara cahaya yang mlewati jendela kamarku, akupun  langsung bangun untuk mand dan bersiap ke sekolah. (Saat ini usiaku sudah 15 tahun, bersekolah di SMA 1 Sawang, Aceh Selatan. sejak aku dari umur 6 tahun aku mulai pulang ke kampung tempat ku dilahirkan).

Saat sekolah sudah berbeda dengan masa kecil dulu tentunya, sekarang aku sudah seolah punya batas dengan kehidupanku, aku mulai banyak berfikir untuk melakukan sesuatu.

Pernah aku ditawari oleh seorang guru untuk mengikuti Lomba Kesenian Tingkat SMA (aku bisa dikit seni), saat itu aku hanya diam dan berfikir “apakah aku harus mengikuti ini? Aku gak terlalu bagus melukis. Aku ga terlalu kreatif. Pasti hasil lukis ku nanti malu-maluin.” ucapku dalam hati. Yaaa itu adalah hal terbodoh yang aku lakukan, tidak mau mencoba, dan tidak percaya diri.

Berbeda sekali ketika masa kecil berhaluan arah dengan masa remaja, ketika kecil kita cenderung melakukan apa yang tidak kita fikir dan rencanakan, berbeda halnya ketika dewasa, kita cenderung berfikir tanpa berani untuk mencoba.

Aku sudah menyia-nyiakan kesempatan itu di halaman ceritaku masa SMA, aku tidak berani mencoba dan tidak percaya diri. Sungguh halaman yang sekarang aku sesali.

Aku sekarang baru menyadari arti kesempatan itu apa, sebab semakin aku belajar semakin aku tau pula kebodohanku. Yang perlu kita ingat hanyalah Berfikirlah sepatutnya orang dewasa, namun bertindaklah selayaknya anak kecil” Setidakya itulah yang akan selalu aku cerna dalam kehidupanku.

Jadi, halaman berapa yang sudah kita sia-siakan? Atau sudah berapa halaman yang kita sia-siakan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s